Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Indonesian Peat Prize untuk Standardisasi Metode Pemetaan Lahan Gambut

Jakarta, Berita Geospasial - Tahun 2018 ini merupakan tahun ke-2 sejak diselenggarakannya Indonesian Peat Prize (IPP) yang diluncurkan pada tanggal 2 Februari 2016 lalu. Hari ini, Jumat, tanggal 2 Februari 2018 dilaksanakan pengumuman pemenang IPP bertempat di Ballroom Hotel Pullman, Jakarta. IPP sendiri merupakan sebuah ajang kompetisi yang ambisius dan kolaboratif dengan hadiah senilai 1 juta dolar AS yang diselenggarakan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) dengan didukung oleh David and Lucile Packard Foundation. IPP bertujuan untuk menemukan metode pemetaan luasan dan ketebalan gambut di Indonesia yang paling akurat, terjangkau dan tepat waktu. Dari 44 tim yang mengajukan aplikasi, terpilih 5 finalis, untuk kemudian dipilih 1 pemenang utama yang diumumkan pada hari ini.

Acara yang dimulai pukul 09.00 dengan pemutaran video IPP, dibuka langsung oleh Kepala BIG, Hasanuddin Z. Abidin. “Pada hari ini, bertepatan dengan Hari Lahan Basah Sedunia, dilaksanakan pengumuman pemenang IPP. Hari ini, kita bicara mengenai salah satu jenis lahan basah, yakni lahan gambut, ekosistem yang sangat penting bagi Indonesia dan dunia, karena peran gambut dalam menyimpan karbon dalam jumlah besar dan habitat bagi keanekaragaman hayati”, tutur Hasanuddin.

Gambut penting, perlu dikelola, dan perlu dilestarikan. Namun sayangnya degradasi dan kebakaran lahan gambut di Indonesia telah menyebabkan lepasnya karbon dalam jumlah besar ke atmosfer. Menurut dokumen NDC (Nationally Determined Contribution) Indonesia, sebagian besar emisi Indonesia, yakni 46%, berasal dari perubahan peruntukan lahan. Menurut data Kaji Ulang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) dari BAPPENAS, emisi karbon lahan gambut dari pembusukan gambut dan kebakaran gambut menyumbang 42% dari seluruh emisi Indonesia.

Untuk menjawab tantangan ini, diperlukan transformasi dalam mengelola lahan gambut. Langkah pertama adalah dengan memetakan lahan gambut secara cepat dan akurat. Pemetaan lahan gambut akan memberi informasi yang diperlukan dalam mengelola lahan gambut secara efisien dan efektif, termasuk dalam melakukan berbagai kegiatan restorasi yang dibutuhkan. “Tiga hal penting dalam pengelolaan gambut adalah 3E : yaitu efektif, efisien dan ekonomis”, tandasnya.

Metode pemetaan gambut yang cepat, akurat, dan terjangkau sangat penting untuk upaya pemantauan gambut secara berkala, mengingat luasan dan ketebalan gambut yang dapat berubah akibat perubahan tata guna lahan gambut. Hasanuddin menambahkan, “Selain itu, dengan metode yang dapat menghasilkan peta gambut berskala 1: 50.000, kita dapat mengidentifikasi area lahan gambut yang harus dikonservasi dan dapat dibudidayakan untuk dapat mengelola lahan gambut secara lestari”.

Melalui kompetisi IPP, diharapkan dapat menemukan inovasi pada metode pemetaan lahan gambut yang berguna bagi pengelolaan lahan gambut di Indonesia di masa mendatang. Awal peserta adalah 44 peserta kemudian dipilih 10, lalu 5 besar, hari ini menjadi 1 juaranya. Hal yang bisa ditempuh adalah dari 5 finalis bisa dilakukan penggabungan metode untuk memperoleh metode yang paling baik. Dari 5 metode pemetaan gambut yang dikembangkan oleh 5 finalis akan digunakan untuk menyusun SNI Pemetaan Gambut Indonesia.

BIG akan memimpin proses untuk memanfaatkan metode pemenang sebagai rujukan utama untuk memperbaiki Standar Nasional Indonesia Pemetaan Gambut Skala 1:50.000, dan akan memulai proses tersebut dengan mengeluarkan Peraturan Kepala BIG tentang pemetaan gambut pada skala 1:50.000. Dengan membuat metode tersebut sebagai standar, kita akan memperoleh peta gambut beserta data dan informasi spasialnya sebagai sarana melindungi lahan gambut secara lebih efektif dan efisien. “Indonesian Peat Prize juga adalah tentang kolaborasi. Kompetisi ini menghasilkan kolaborasi tim pakar dan ilmuwan dari Indonesia dan internasional, kolaborasi antara tim Dewan Penasihat Ilmiah, kolaborasi antar kementerian lembaga, dan kolaborasi lintas sektor”, ujar Hasanuddin.

Hasanuddin menutup sambutannya dengan mengungkapkan, “Semoga melalui kegiatan pagi ini, Bapak Ibu sekalian dapat melihat pentingnya pemetaan gambut, bagaimana metode pemenang dapat diterapkan dan bermanfaat bagi Indonesia dan dunia, dan dapat makin memahami peran vital pemetaan gambut untuk masa depan Indonesia di bidang ekonomi, sosial, dan lingkungan yang lebih baik”.

Berikutnya adalah tinjauan dan perkembangan terbaru IPP yang dipaparkan oleh Nurwadjedi, Deputi Bidang Informasi Geospasial Tematik (IGT). Latar belakang pelaksanaan kompetisi ini adalah masih relatif minimnya dan kurang barunya data dan informasi terkait peta-peta gambut sebagai acuan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan perlindungan dan restorasi gambut. Data yang ada belum cukup untuk menjawab isu-isu pengelolaan gambut di tingkat tapak yang butuh data/informasi lebih detil. Peta gambut yang ada saat ini menggunakan skala kecil yang didapatkan dari : Program Perencanaan Fisik Regional untuk Transmigrasi pada 1989, Wetlands International pada 2004, dan Kementerian Pertanian pada tahun 2011.

Padahal luasan dan ketebalan gambut dapat berubah seiring waktu akibat aktivitas di lahan gambut, seperti pembukaan lahan untuk pertanian dan perkebunan. Dampak dari minim dan kurang barunya data dan informasi di peta gambut antara lain : memperlambat pelaksanaan restorasi di lapangan dan menyulitkan koordinasi dengan pemilik lahan karena data dan informasi gambut di peta tersebut dinilai tidak lagi sesuai dengan keadaan saat ini; serta mengakibatkan kurang tajamnya arahan pemerintah kepada pemilik lahan terkait tindakan restorasi seperti pembasahan kembali dan penanaman kembali yang harus dilakukan.

“Dalam IPP ini terdapat Dewan Penilaian Ilmiah (Scientific Advisory Board/SAB) yang beranggotakan pakar di bidang gambut, lingkungan dan teknologi pemetaan yang akan menilai metode yang diserahkan peserta dari universitas dan institut penelitian nasional serta internasional”, jelas Nurwadjedi. Sementara kriteria penilaian/penjurian adalah : Keakuratan (Accuracy), Affordability, Kecepatan (Speed). “Affordability” dimaksudkan tidak hanya mengindikasikan cost effectiveness tapi juga layak diterapkan di lapangan serta dapat direplikasi di wilayah lain di Indonesia yang beragam karakter gambut dan bentang alamnya. Hasil kompetisi ini diperoleh bahan untuk perbaikan SNI Pemetaan Gambut. Adapun Peta Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) dibuat dalam skala 1: 2.500. Peta KHG tersebut disusun dari peta sistem lahan DEM dan data lainnya dari BIG, KLHK, dan Kementan. Diharapkan pemenang dari kompetisi ini dapat memperkaya khazanah pemetaan gambut di Indonesia, yang tentu saja membantu mendukung restorasi gambut di Indonesia.  (LR/TR)