Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

BIG Gelar Penandatanganan MoU dan Kuliah Umum di Universitas Andalas

(Padang. Berita Geospasial) - Kota Padang, kali ini menjadi tujuan sosialisasi penyelenggaraan Informasi Geospasial (IG) oleh Badan Informasi Geospasial (BIG). Kehadiran BIG kali ini dalam rangka untuk penandatanganan Kesepahaman Bersama (MoU) dan memberikan Kuliah Umum bagi Universitas Andalas (Unand). Acara berlangsung pada hari Selasa, tanggal 7 November 2017 mulai dari pukul 09.00-12.00. Bertempat di Covention Hall Universitas Andalas, acara diikuti oleh kurang lebih 100 orang mahasiswa-mahasiswi.

Hadir membuka acara adalah Wakil Rektor IV Unand, Endry Martius. Disampaikan bahwa kehadiran BIG disini merupakan Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) yang amat strategis kedudukannya dalam pembangunan di Indonesia maupun di daerah. “Kita di Sumatera Barat ini yang paling hangat adalah konflik agrari. Wilayah Padang ini pergerakan ekonominya pesat, di perbatasan daerah ada ekonomi yang tumbuh, dengan demikian orang-orang dan masyarakat ingin batas wilayah tersebut jelas. Harapannya kita dapat mengampil peran dan dapat bermitra dengan BIG untuk mengambangkan IG yang tepat di daerah ini”, ungkapnya.

Endry juga menuturkan bahwa hari ini hadir pula perwakilan dari pemerintah daerah, jadi hari ini tidak hanya dilangsungkan kerja sama dengan BIG, tetapi juga dengan pemerintah daerah. Ini merupakan turunan kerja sama antara BIG dengan Unand. Endry menambahkan, “Dengan kerja sama yang seperti ini, Unand sangat berbahagia dan memberikan penghargaan setinggi-tingginya, baik kepada BIG maupun Pemerintah Daerah. Yang paling prinsip dari BIG adalah One Map Policy, mungkin itu bisa menjadi acuan bagi kita bagaimana kita bermitra dengan BIG dan Pemerintah Daerah”.

Adapun Kesepahaman Bersama antara BIG dengan Unand yang ditanda tangani pada hari itu terkait : Pemanfaatan dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terkait Informasi Geospasial. Setelah penandatanganan, acara diteruskan dengan Kuliah Umum yang dibawakan oleh Kepala BIG, Hasanuddin Z. Abidin. Sebagai pembawa acara adalah Insanul Kamil, dengan moderator Taufik dari Unand. Insanul Kamil menjelaskan bahwa perkembangan teknologi di dunia ini sangat pesat. Pertumbuhan penduduk yang luar biasa menyebabkan tatanan kehidupan semua berubah. “Ini menjadi dasar kita semakin membutuhkan data informasi geospasial yang akurat”, ungkapnya.

Kepala BIG, Hasanuddin Z. Abidin dalam kuliah umumnya menyampaikan bahwa Informasi Geospasial adalah seluruh jenis informasi yang memiliki unsur lokasi di permukaan bumi maupun di dalam, dan di atas permukaan bumi punya georeference/punya koordinat. Bentuknya bermacam-macam ada peta 1 dimensi, 2 dimensi, bahkan nanti  bukan hanya peta permukaan saja tetapi peta sosial ekonomi budaya bisa di tumpang tindihkan diatas peta dan akan lebih menarik. Peta dibuat bukan hanya untuk keperluan IG tetapi juga untuk pembangunan berkelanjutan seperti : Kesejahteraan Masyarakat, Pengayaan Khasanah Keilmuan, Pertahanan & Keamanan Negara. Data yang digunakan adalah Jarak, Sudut, Ketinggian, Kedalaman, Koordinat, Gayaberat, Pasut, Foto Terestris, Foto Udara, Citra Satelit.

Data BIG tidak berupa 3 dimensi melainkan 4 dimensi. Oleh sebab itu, memerlukan kapasitas SDM dan Industri IG yang baik dan berkualitas. Seharusnya di setiap universitas ada yang menangani IG, karena Teknik Geodesi dan Geografi sangat diperlukan. Ketika berbicara wilayah laut, masa depan Indonesia ada di laut, pemerintah mulai bergerak ke arah laut. “Di Unand seharusnya peta laut yang komprehensif, karena daerah Padang ini memiliki potensi sumber daya alam laut yang luas. Kita perlu kelola dan perguruaan tinggi perlu mempersiapkan SDMnya”, tuturnya.

Prioritas Nasional di tahun 2018 mempunyai 6 program prioritas dan BIG mendukung program tersebut. Informasi Geospasial diperlukan untuk perencanaan dan implimentasi program pembangunan secara efektif dan efisien. Bappenas dalam perencanaan pembangunan sudah menerapkan yang namanya HITS: Holistik, Integratif, Tematik, dan Spasial. Pemerintah untuk pembangunan mencoba menggabungkan IG dan statistik, dengan data geospasial untuk perencanaan pembangunan. Data Indonesia akan dibagi menjadi 3. Satu data geospasial pembinanya BIG, data Statstik BPS, data lainnya pembinanya kominfo. Ketiganya pemerintah minta digabungkan untuk pembangunan. Ketersediaan IG yang akurat & terpercaya dapat meningkatkan pengambilan keputusan lebih efisien, efektif & komunikatif. BIG mempunyai fungsi untuk mengeluarkan peta dasar. Peta tematik dibuat oleh kementerian/daerah diminta ditumpangkan dengan peta dasar itu yang dinamakan one map policy. Kebutuhan Peta Dasar (RBI atau LPI) yang dibutuhkan daerah kebanyakan di skala 1:5.000.

Kota padang ingin memetakan 1: 100.000 untuk smart city, mitigasi bencana, dan sebagainya. Lokasi Akuisisi dan Pemetaan Skala 1: 1.000 di daerah, supervisi sudah dilaksanakan oleh BIG Tahun 2014 – 2016. Output-nya berupa : Peta RBI Skala 1:1.000 ada di Medan, Bekasi, Balikpapan, Kota Lubuklinggau, Surabaya, Bandung, dan rencana Padang akan dilakukan pada tahun 2018. Ketersediaan RBI skala 1: 5.000 memang belum banyak karena sebelumnya BIG fokus pada skala 1:25.000.

BIG Selaku Competent Authority Bidang Surveying, diberi mandat oleh Sekretariat ASEAN untuk MRA dan menunjuk Indonesia untuk melakukan harmonisasi Pendidikan Surveying. Diperlukan suatu strategi dalam menghadapi liberalisasi jasa surveying ASEAN. Mengingat bahwa Indonesia merupakan pasar terbesar dalam bidang IG. Adapun Industri IG yang tidak berkembang dengan baik indikasinya adalah : perkembangan jumlah industri sangat kecil, tidak terserapnya tenaga-tenaga lulusan SMK dan Perguruan Tinggi, Lulusan SMK/PT belum siap pakai, Belum tersedianya strategi yang komprehensif dalam menghadapi liberalisasi jasa surveying ASEAN. Peranan Perguruan Tinggi sangat penting disini terutama dalam penyiapan SDM Geospasial yang kompeten. “Pelaksanaan riset-riset dalam berbagai topik yang terkait dengan pengembangan keilmuan dan aplikasi geospasial di Indonesia; pembangunan dan pemanfaatan PPIDS (Pusat Pengembangan Infrastruktur Data Spasial); kerjasama dengan Pemda setempat terkait pembangunan dan pengembangan informasi geospasial untuk melayani berbagai keperluan daerah sangat penting untuk dilaksanakan”, jelas Kepala BIG, Hasanuddin. Acara pun diakhiri dengan sesi tanya jawab dan penyerahan cinderamata dari BIG kepada Unand, dan sebaliknya. Semoga materi yang diberikan Kepala BIG pada kuliah umum ini bisa memberikan manfaat bagi para peserta yang hadir dan mendengarkan dengan seksama. (DF-YC/LR)