Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Komisi VII DPR RI Kunjungi PGSP di Parangtritis

Bantul, Berita Geospasial BIG – Komisi VII DPR RI melakukan kunjungan kerja ke Parangtritis Geomaritime Science Park (PGSP), Parangtritis,  Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)  pada hari Jum’at, 20 Juli 2018. Dalam kunjungan ini, enam anggota Komisi VII hadir, antara lain Tamsil Linrung, Nazaruddin Kiemas, Nawafie Saleh, Anda, Agus Sulistiyono dan Kurtubi.

Kunjungan kerja kali ini juga dihadiri oleh Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG) Prof. Hasanuddin Zainal Abidin, perwakilan Pemerintah Kabupaten Bantul dan perwakilan dari Universitas Gajah Mada. Prof. Hasanuddin menyambut hangat datangnya Anggota DPR RI ke PGSP. Kunjungan Kerja Anggota DPR RI Komisi VII ke PGSP merupakan yang pertama kali.

Tamsil Linrung selaku Wakil Ketua Komisi VII, mengatakan bahwa tujuan kunjungan kerja ini adalah untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai perkembangan PGSP, terutama informasi mengenai kondisi gumuk pasir.

Di hadapan anggota dewan, Wiwin Ambarwulan selaku Kepala Pusat Penelitian, Promosi dan Kerja Sama (PPKS) BIG memberikan paparan singkat mengenai profil PGSP. Dalam paparannya, Wiwin menjelaskan kegiatan yang dilaksanakan PGSP meliputi penelitian, pelatihan, kunjungan, pelayanan, kerja sama dan publikasi. Kegiatan kunjungan merupakan salah satu keunggulan PGSP.

“Sampai dengan Juni 2018, total kunjungan sudah mencapai 8.247, dari target yang sudah ditetapkan yaitu sebanyak 12.000 kunjungan”, ungkapnya.

 

Nawafie Saleh, selaku anggota Komisi VII dari Fraksi Partai Golkar memberikan masukan supaya setiap kunjungan ke PGSP dikenakan tarif. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menaikkan pendapatan daerah dan menunjang kegiatan penelitian di PGSP.

Selain profil PGSP, Wiwin juga memberikan paparan mengenai keberadaan gumuk pasir di Parangtritis. Gumuk pasir di Parangtritis sendiri sangatlah unik dan langka. Begitu langkanya, gumuk pasir sejenis hanya terdapat di dua lokasi di dunia, yaitu di Parangtritis dan Meksiko. Berdasarkan hasil pemetaan yang dibuat pada tahun 1976, kondisi gumuk pasir masih lestari tanpa adanya vegetasi atau bangunan yang menganggu. Namun ketika dilakukan pemetaan kembali pada tahun 2017, kondisi gumuk pasir dinilai mengkhawatirkan. Area gumuk pasir semakin menyusut. Zona inti sudah penuh dengan vegetasi dan permukiman.

Wiwin juga menjelaskan penambangan liar, pembangunan taman bunga untuk kepentingan wisata, serta pembangunan jalan menjadi ancaman keberadaan gumuk pasir. “Kami mohon dukungan dari DPR untuk membantu menjaga kelestarian gumuk pasir ini”, ujar Wiwin.

Anggota Komisi VII DPR Agus Sulistiyono Dapil DIY meminta agar keberadaan gumuk pasir harus menjadi perhatian semua pihak. Pemerintah harus berani melakukan tindakan radikal dengan sterilisasi zona inti gumuk pasir.  “Harus dilakukan tindakan radikal untuk menyelamatkan gumuk pasir. Jika terus dibiarkan seperti ini, dalam 20 tahunlagi, keberadaan gumuk pasir akan hilang”, ujar Agus.

Dalam kunjungan kerja kali ini, anggota komisi VII DPR RI juga melakukan kunjungan ke kawasan gumuk pasir untuk melihat langsung kondisi gumuk pasir. Kunjungan  didampingi oleh Dekan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Prof. Muh Aris Marfai.

Kunjungan kerja diakhiri dengan kegiatan kunjungan ke Museum Gumuk Pasir yang diresmikan pada 2015 lalu. Museum Gumuk Pasir di kawasan PGSP merupakan sarana edukasi untuk mengetahui keberadaan gumuk pasir dan fenomena alam pesisir di Yogyakarta. (NH/ATM)