Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

BIG Bersama WRI Sosialisasikan Kebijakan Satu Peta dan Pemetaan Gambut

 photo DSCF1357_zpsut49yrac.jpg

Jakarta, Berita Geospasial – Gambut merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi dunia dalam menjaga kestabilan iklim global.  Peta gambut dalam skala detil hingga 1:2.500 belum tersedia secara sistematis.  Untuk mengetahui persebaran dan potensinya maka diperlukan pemetaan gambut secara cepat, murah dan akurat.  Ini yang melatarbelakangi diselenggarakannya Indonesian Peat Prize.

Indonesian Peat Prize (IPP) atau Kompetisi Pemetaan Gambut Indonesia telah digelar oleh Pemerintah Indonesia melalui Badan Informasi Geospasial dengan dukungan David and Lucile Packard Foundation.  Ini merupakan suatu kompetisi yang ambisius dan kolaboratif, serta pertama di dunia untuk menemukan metode pemetaan lahan gambut yang paling akurat, cepat, dan terjangkau dengan hadiah senilai 1 juta dolar AS. Metode pemenang akan dijadikan sebagai rujukan utama untuk memperbaiki Standar Nasional Indonesia untuk pemetaan gambut skala 1:50.000. Dengan membuat metode tersebut sebagai standar, diharapkan dapat memperoleh peta gambut beserta data dan informasi geospasialnya sebagai sarana melindungi lahan gambut secara lebih efektif dan efisien. Peta gambut ini merupakan salah satu tema dalam Kebijakan Satu Peta (KSP). 

Untuk mengenalkan lebih jauh kepada masyarakat tentang KSP dan pemetaan gambut, maka BIG bersama World Resource Institute (WRI) Indonesia menyelenggarakan gelar wicara (talkshow) di Program Metro Plus Metro TV pada Rabu, 28 Februari 2018 di Jakarta. Dengan dipandu oleh talkmasters Jason Sambouw dengan menghadirkan Kepala BIG Hasanuddin Z. Abidin dan Direktur WRI Indonesia Tjokorda Nirarta Samadhi (Koni).

Kebijakan Satu Peta (KSP) merupakan salah satu kebijakan pemerintah Indonesia yang telah ditetapkan melalui Peraturan Presiden No. 9/2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Kebijakan Saru Peta (KSP) pada Tingkat Ketelitian Peta Skala 1:50.000.  Dalam pelaksanaannya dikoordinasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Badan Informasi Geospasial (BIG). Kepala BIG Hasanuddin Z. Abidin, menyatakan bahwa kebijakan satu peta mempunyai 3 tahap yaitu kompilasi, integrasi dan sinkronisasi. Terdapat 85 tema yang dikerjakan di KSP dan salah satu temanya adalah peta gambut. Dalam KSP yang perlu segera dilakukan adalah protokol berbagai pakai dan saat ini sedang menunggu perpresnya.

Sementara itu, Direktur WRI Tjokorda Nirarta Samadi menambahkan bahwa pada 2 Februari 2018 lalu telah diumumkan pemenang IPP. Kompetesi ini untuk menentukan metode pemetaan lahan gambut. Dalam kompetisi ini yang perlu dipenuhi adalah 3 prinsip yaitu akurasi tinggi, efisien dan efektif. Metode pemetaan ini akan mendukung kebijakan pengelolaan gambut nasional. Dengan adanya metode pemetaan ini maka akan didapatkan peta lahan gambut dan ke depannya pengelolaan lahan gambut dapat berkesinambungan. Metode pemetaan gambut ini akan mendukung percepatan pelaksanaan kebijakan satu peta.

Keberadaan data dan informasi geospasial yang akurat, terbaru dan tunggal (satu peta), merupakan prasyarat bagi pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dan berkeadilan. Perlindungan sumber daya alam tidak hanya dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia tetapi memastikan pembangunan ekonomi yang terus berlanjut bagi generasi di masa mendatang.  [IP/TR]