Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

13 Tahun Berlangsung, Kerja Sama BIG dan ITB kembali Diperbarui

Bandung, Berita Geospasial BIG - Kebijakan Satu Peta (KSP) sangat penting terutama untuk mengawal perencanaan pembangunan nasional. Merujuk pada hal tersebut, perlu diselenggarakan percepatan Kebijakan Satu Peta untuk mengoptimalkan penyediaan, pengelolaan, dan pemanfaatan Informasi Geospasial (IG) di Indonesia. Pelaksanaan Penandatanganan Nota Kesepakatan Bersama dan Perjanjian Kerja Sama antara Badan Informasi Geospasial (BIG) dengan berbagai Kementerian/Lembaga (K/L), Pemerintah Daerah (Pemda), dan Perguruan Tinggi pun dilaksanakan untuk mendukung percepatan Kebijakan Satu Peta tersebut, salah satunya dengan membangun Pusat Pengembangan Infrastruktur Data Spasial (PPIDS) di Institut Teknologi Bandung (ITB).

PPIDS ITB merupakan pusat yang dibangun berdasarkankan nota kesepahaman antara ITB dan  Bakosurtanal (yang sekarang dikenal sebagai BIG) pada tahun 2005. PPIDS ITB secara organisasi di ITB berada di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat atau Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Kerjasama. Setelah 13 tahun kerja sama tersebut berlangsung, BIG kembali memperbarui Naskah Kesepahaman Bersama dan Perjanjian Kerja Sama pada hari Jumat, 6 Juli 2018 yang bertempat di Gedung Rektorat ITB.

Acara penandatanganan Naskah Kesepahaman Bersama dan Kerja Sama tersebut dihadiri langsung oleh Kepala BIG, Hasanuddin Z. Abidin; Rektor Institut Teknologi Bandung, Kadarsah Suryadi; Kepala Pusat Penelitian Promosi dan Kerja Sama, Wiwin Ambarwulan; serta Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi dan Kemitraan ITB, Bambang Riyanto Trilaksono. Bermula dengan agenda penandatanganan Naskah Kesepahaman Bersama oleh Kepala BIG dan Rektor ITB, acara tersebut dilanjutkan dengan penandatanganan naskah Perjanjian Kerja Sama oleh Kepala Pusat Penelitian Promosi dan Kerja Sama dan Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi dan Kemitraan ITB.

Dalam sambutannya, Kepala BIG, Hasanuddin Z. Abidin mengutarakan bahwa saat ini tenaga geospasial yang berkompeten banyak dimiliki oleh perguruan tinggi, sehingga BIG sangat membutuhkan kerja sama terutama di bidang SDM dalam menyelesaikan pemetaan di berbagai bidang di Indonesia, salah satunya yang sedang digarap ialah pemetaan lahan baku sawah. Indonesia untuk tahun ini membutuhkan sekitar 20.000 SDM tenaga geospasial dari tingkatan SMK, Diploma, hingga Sarjana. Selain itu, Hasanuddin mengungkapkan kerja sama yang telah dijalin sangatlah berguna bagi para peneliti yang fokus pada geospasial. Banyak data geospasial yang dapat dipakai oleh kedua belah pihak untuk digunakan dalam berbagai penelitian.

Pada kesempatan berikutnya, Rektor Institut Teknologi Bandung, Kadarsah Suryadi turut menuturkan rasa terima kasih atas kepercayaan BIG dalam membina kerja sama dengan ITB selama ini. Kadarsah menegaskan bahwa ITB siap berkolaborasi dalam membantu BIG memanfaatkan data geospasial untuk kepentingan bangsa dan negara. “Semoga Allah SWT meridhoi perjalanan kita semua untuk memajukan bangsa” tutup Kadarsah. (RB/LR)