Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Badan Informasi Geospasial Menyambangi Desa Kebobang

Kebobang, Berita Geospasial- Kembali, Badan Informasi Geospasial (BIG) menyasar Kabupaten Malang sebagai lokasi melaksanakan diseminasi Informasi Geospasial (IG). Hari Sabtu, 15 September 2018, dilaksanakan diseminasi IG di Ruang Balai Desa Kebobang, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Sebanyak 150 orang yang berasal dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat mengikuti diseminasi pada hari itu.

Tema yang diangkat dalam diseminasi ini adalah “Sinergi Bersama Mewujudkan Satu Peta”. Pada pukul 09.00 WIB, acara diawali dengan sambutan oleh Deputi bidang Informasi Geospasial Tematik (IGT) BIG, Nurwadjedi. Nurwadjedi yang ternyata asli Malang ini mengungkapkan apresiasinya karena bisa menyelenggarakan diseminasi IG di desa Kebobang ini. “Mungkin memang banyak diantara Bapak-Ibu yang belum mengenal apa itu geospasial. Dulu kami bernama Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional, disingkat Bakosurtanal. Dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang IG, Bakosurtanal berubah namanya menjadi Badan Informasi Geospasial, atau disingkat BIG”, ujarnya.

BIG ini adalah Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) yang salah satu tugasnya melakukan kegiatan survei dan pemetaan kewilayahan. Secara umum, BIG wajib menyelenggarakan pemetaan dasar. Pemetaan dasar ini salah satunya termasuk pemetaan batas, yang hasilnya berupa peta batas desa. Nurwadjedi menambahkan, “BIG ini mengerjakan pemetaan batas di seluruh wilayah Indonesia, yang jumlahnya kurang lebih 85.000 desa. Tahun depan ditargetkan sudah selesai semua”. Pemetaan desa ini penting karena akan membawa masyarakat desa ke arah kesejahteraan yang lebih baik. Diungkapkan pula bahwa program utama BIG saat ini adalah mewujudkan Satu Peta. Program Satu Peta ini dilaksanakan karena banyak sekali tumpang tindih perijinan penggunaan lahan. Di satu sisi, pemerintah sedang menggalakkan pembangunan, bila wilayah tersebut masih koflik, maka pembangunan bisa macet. Oleh karenanya dikeluarkan peraturan Kebijakan Satu Peta (KSP).

Setelahnya, diberikan penjelasan singkat tentang profil BIG oleh F. Wahyutomo, Kepala Biro Perencanaan, Kepegawaian, dan Hukum (PKH) BIG. Wahyutomo mengungkapkan bahwa BIG sebelumnya bernama Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal). Dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang IG, maka BIG pun lahir ke dunia. Sebagai BIG, visi utamanya adalah menjadi integrator penyelenggaraan IG sebagai landasan pembangunan Indonesia. “Produk BIG yang utama adalah peta. BIG menghasilkan peta rupabumi Indonesia atau RBI, yang pada hari ini dibagikan kepada Bapak-Ibu sekalian”, ujar Wahyutomo. Adapun peta RBI yang dibagikan adalah untuk wilayah Desa Kebobang, Kecamatan Wonosari dengan skala 1: 25.000.

Menyusul setelahnya arahan yang disampaikan oleh pembicara kunci, Ridwan Hisjam. Ia menyatakan bahwa BIG sebagai LPNK wajib untuk melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat. Agar masyarakat mengetahui apa hasil yang dikerjakan oleh lembaga negara. “Salah satu fungsi DPR adalah pengawasan. Saat ini saya melaksankan fungsi tersebut dengan mendampingi BIG, salah satu mitra kerja Komisi VII DPR RI melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat Indonesia”, jelas Ridwan. Hal itu dilakukan untuk mengetahui apakah pelaksanaan anggaran pemerintah telah berlangsung dengan baik dan sesuai peraturan yang ada. Disampaikan juga harapannya agar peserta yang hadir memanfaatkan ilmu yang diberikan sebaik mungkin.

Setelah itu acara diteruskan dengan sesi foto bersama antara peserta dengan pembicara yang hadir pada saat itu. Dilanjutkan dengan sesi diskusi panel dengan moderator Didik Mardiyanto, Staf Pusat Pemetaan dan Integrasi Tematik (PPIT) BIG. Hadir sebagai narasumber yaitu Nursugi, Kepala Bidang Penelitian, Pusat Penelitian, Promosi dan Kerja Sama (PPPKS) BIG; serta Bambang Joko Pratondo, Staf PPIT BIG.

Nursugi membawakan materi terkait profil singkat BIG dan peranan peta dan atlas untuk mendukung dunia pendidikan. Dipaparkan bagaimana melalui peta dapat dilihat bahwa Indonesia terletak diantara 5 benua dan 3 samudera. Bila peta negara Indonesia ditumpuk diatas peta benua Eropa, maka ujung barat Indonesia (sabang) berada di London, sementara ujung timur Indonesia (Merauke) berada di Bagdad. Sementara untuk ujung utara Indonesia (Kepulauan Satal) berada di Jerman, sementara ujung selatan Indonesia (Pulau Rote) terletak di Aljazair.

“BIG menghasilkan beberapa peta dan atlas yang berguna untuk pendidikan di Indonesia”, jelas Nursugi. Misalnya : peta Negara Kesaturan Republik Indonesia (NKRI) untuk pendidikan; peta dunia dan regional untuk membantu siswa/i mengerti terkait spasial wilayah regional dan dunia, serta dapat mengaitkan posisi strategis Indonesia terhadap wilayah lain; peta tematik fisik (peta sebaran sumberdaya, geologi regional, flora dan fauna, kebencanaan, arah angin dan curah hujan) supaya dapat mengaitkan fenomena mahluk hidup dana lam; peta tematik sejarah, sosial, dan ekonomi (terkait sejarah klasik, sejarah perjuangan, kependudukan) bermanfaat agar memahami dinamika sejarah dan kependudukan.

Materi berikutnya terkait Implementasi Kebijakan Satu Peta (KSP) yang dibawakan oleh Bambang Joko Pratondo, Staf PPIT BIG. Diungkapkan bahwa data dan IG menjadi dasar utama perumusan kebijakan pembangunan. Namun, dalam penyelenggaraannya masih terdapat ketidakidealan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif yang disebabkan karena tata kelola yang belum sempurna. Hal tersebut menyebabkan terjadi konflik akibat tumpang tindih data yang ada.

Maka dari itu pemerintah merumusakan suatu regulasi untuk menyelesaikan permasalahan penyelenggaraan IG Nasional melalui KSP. Melalui KSP akan tersedia referensi tunggal demi padunya IG di Indonesia; menjamin ketersediaan dan akses IG yang dapat dipertanggung-jawabkan; mewujudkan kebergunaan dan keberhasil-gunaan IG melalui kerja sama, koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi; serta mendorong penggunaan IG dalam pemerintahan dan kehidupan masyarakat. “Dengan adanya KSP ini, maka peta-peta yang dihasilkan K/L terkait telah diintegrasikan dan dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya”, tuturnya.

Mengakhiri diseminasi pada hari itu, dilaksanakan pula sesi diskusi tanya jawab dengan seluruh peserta yang hadir. Tak lupa BIG juga melaksanakan pameran geospasial dengan membawa buku-buku terkait geospasial seperti : buku Sains Indonesia, Majalah Geospasial Indonesia, Buku Profil BIG, Buku Hasil Survei BIG dan sebagainya. Semoga melalui kegiatan ini masyarakat di daerah Kabupaten Malang, khususnya Desa Kebobang bisa memahami apa itu peta secara umum, dan lebih mengenal BIG lagi. (LR)