Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

TEWS Tanpa Real Time, Mungkinkah?

Bermain ke pantai adalah salah satu aktifitas yang selalu direncanakan hampir semua orang tua menjelang liburan sekolah anak-anaknya. Tidak semua memang, tapi kebanyakan dari mereka yang sehari-hari tinggal di tengah kota selalu merindukan hangatnya udara pantai.
Dan mereka yang senang berwisata ke pantai memiliki segudang alasan. Menurut mereka pantai menyajikan keindahan dan kesenangan yang dapat dinikmati anak-anak maupun orang tua. Tampaknya satu alasan tadi sudah cukup menjawab pertanyaan mengapa setiap liburan sekolah, objek wisata pantai selalu dipenuhi wisatawan, baik domestik maupun asing.
Betapa tidak, selagi anak-anak bermain – membangun istana pasir -, sang ayah bisa menikmati deburan ombak yang serasa memijat sekujur tubuh. Sang ibu pun memiliki kesenangan sendiri – memilih dan membeli ikan-ikan segar yang baru dibawa para nelayan- untuk dimasak di siang hari. Tidak hanya itu, menjelang sore, kita dapat menikmati keindahan matahari terbenam. Keesokan harinya, kita disuguhi indahnya matahari terbit. Keindahan pantai memang bagaikan keindahan yang terus menerus - tanpa henti - layaknya sebuah siklus. Tapi bagaimana jika keindahan itu secara tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang menakutkan, bahkan mematikan.

Masih teringat di benak kita, bagaimana luluh lantaknya Aceh dan Nias akibat sapuan tsunami yang datang sesaat setelah gempa berkekuatan 8,9 skala Richter melanda Aceh dan Nias. Ratusan ribu jiwa terenggut, miliaran bahkan triliunan rupiah kerugian diderita masyarakat setempat. Tak disangka, peristiwa tersebut akan kembali terjadi di bumi Indonesia ini hanya dalam jangka waktu kurang dari dua tahun. Cilacap dan Pangandaran menjadi tempat terjangan tsunami berikutnya setelah Aceh dan Nias.

Tidak begitu berbeda dengan tsunami di Aceh, tsunami di Pangandaran dan Cilacap juga dipicu oleh gempa, namun kali ini berkekuatan lebih kecil, 6,8 Skala Richter, sehingga dampak yang diakibatkan tsunami ini tidak separah Aceh dan Nias. Gempa yang berpusat di selatan Pulau Jawa , tepatnya di 9,46 LS dan 107,19 BT ini lagi-lagi terjadi di sekitar zona subduksi, yaitu pertemuan lempeng Indo-Australia dengan Eurasia.

Sebenarnya kita tidak perlu heran akan semua kejadian alam ini karena lempeng bumi memang terus bergerak – saling menjauh, bergeser, dan atau saling mendekat. Dan, Indonesia memang berada di zona tumbukan, pergeseran, dan peregangan lempeng-lempeng tersebut. Meski sudah dipastikan lempeng bumi terus bergerak, bahkan pergerakannya dapat diukur, tidak ada satu pun ahli kebumian dapat memperkirakan kapan lempeng-lempeng tersebut akan bertubrukan, bergeser, atau saling menjauh. Apalagi memperkirakan kapan akan terjadi gempa. Hingga saat ini, ahli geologi dan geofisika hanya dapat memperkirakan periode gempa. Ironisnya, meskipun gempa dan tsunami di Aceh serta Nias masih begitu melekat di benak semua orang, bahkan menciptakan trauma bagi semua orang, jumlah korban jiwa akibat gempa dan tsunami di Pangandaran dan Cilacap tetap saja banyak. Hal ini menunjukkan, ancaman bencana gempa dan tsunami di Indonesia belum mendapatkan perhatian besar dari masyarakat Indonesia itu sendiri. Tentu kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan masyarakat atas ketidaktahuan mereka membaca gejala tsunami yang diperlihatkan alam – surutnya air laut secara tiba-tiba. Seharusnya, orang yang tahu lah yang menyosialisasikan apa yang mereka ketahui kepada orang yang tidak mengetahui.

Real Time Sangat Diperlukan
Pasang surut merupakan fenomena alam yang wajar sebagai akibat gaya tarik bumi dengan benda-benda langit lainnya. Dalam keadaan normal, pasang surut air laut berpola teratur. Namun, apabila terjadi gempa yang berpusat di laut dengan kekuatan di atas 6,5 Skala Richter, air laut akan surut dan pasang secara drastis. Dari fenomena alam inilah data pasang surut air laut dapat digunakan sebagai Tsunami Early Warning System (TEWS).
Menurut Parluhutan Manurung, Kepala Bidang Medan Gayaberat dan Pasang Surut (MGPS) BAKOSURTANAL, Hasil pemantauan gempa dasar laut dari jaringan seismometer harus dilengkapi dengan pemantauan jaringan pasang surut, terutama untuk gempa yang memiliki magnitudo sebesar 6,5 atau lebih.

“Melalui pemantauan pasang surut, kita dapat mengetahui potensi terbentuknya gelombang tsunami akibat gempa yang terjadi,” jelas doktor lulusan Surveying University of Newcastle upon Tyne, Inggris tahun 1996. Saat ini, BAKOSURTANAL memiliki 61 stasiun pasang surut yang tersebar di seluruh Indonesia. Lebih dari separuhnya masih menggunakan sistem analog (grafis). Dari 61 stasiun tersebut sedikit di antaranya sudah menggunakan sistem digital, dan hanya 7 stasiun yang sudah menggunakan sistem real time. Luhut, demikian sapaannya, menjelaskan agar data pasang surut dapat mendukung TEWS, teknologi jaringan pasang surut harus ditingkatkan, terutama dalam komunikasi data. “Sekarang ini, kami melakukan download data pasang surut dari stasiun digital seminggu sekali, sedangkan dari analog sebulan sekali. Maka itu saya berharap semua stasiun pasang surut bisa real time agar data dapat diambil setiap waktu,” jelas dia. Kekecewaannya akan komunikasi data terlihat saat tsunami melanda Pangandaran dan Cilacap 17 Juli lalu. “Stasiun pasang surut kami yang terdekat dengan pusat gempa Pangandaran kemarin adalah Cilacap, Prigi, Sadeng, dan Benoa. Namun hanya Benoa yang real time, yang lainnya analog,” ujar Parluhutan. “Jadi dapat dibayangkan, saat gempa dan tsunami terjadi, pengawas pasang surut kami tentunya menyelamatkan diri, dan baru kembali untuk melihat data setelah keadaan tenang. Maka hilang sudah momen kita, bagaimana bisa kita melakukan TEWS dengan teknologi seperti itu,” tutur dia kecewa.

Dari data pasang surut yang berhasil dikumpulkan, yaitu dari Stasiun Cilacap, Benoa, dan Prigi, terlihat terjadi air laut pasang dan surut secara drastis sesaat setelah gempa terjadi.



Gambar 1. Data Pasang Surut Terekam di Stas. Cilacap
Saat Gempa 17 Juli 2006

Berdasarkan perekaman pasang surut di Stasiun Cilacap, air laut pasang mencapai 240 cm dan surut hingga alat menunjukkan angka 18 cm . Stasiun Pasang Surut Cilacap merekam waktu datangnya gelombang tsunami (tsunami arrival time) pada pukul 16.12 WIB (09:12 GMT).
Masih berdasarkan grafik pasang surut di Cilacap, waktu tempuh gelombang tsunami dari pusat gempa (9,33 LS – 107,26 BT) menuju Stasiun Pasang Surut Cilacap yang berjarak 257 km adalah sekitar 52 menit 35 detik. Dari jarak dan waktu tempuhnya, diperkirakan kecepatan rata-rata gelombang tsunami di Stasiun Pasang Surut Cilacap adalah 81 meter/detik. Seandainya, stasiun-stasiun tersebut sudah menggunakan real time, data penting tersebut dapat diterima lebih cepat, sehingga bisa menjadi peringatan dini untuk masyarakat.

Biaya Besar
Namun, Luhut tidak menampik kenyataan bahwa pemasangan alat real time membutuhkan investasi yang sangat mahal. Dari 7 stasiun real time yang dimiliki BAKOSURTANAL saat ini, 3 diantaranya masih menggunakan GSM, yang didapatkan dari donasi swasta dan pemerintah melalui APBN yang dikoordinir oleh Kementerian Riset dan Teknologi. “Tiga stasiun ini memang sudah real time, tapi karena menggunakan modem komersil maka hanya bertahan satu bulan,” jelas Luhut. Saat ini tiga stasiun real time tersebut menggunakan teknologi GSM, sehingga biayanya sangat mahal. Dia mengasumsikan, jika biaya yang dikeluarkan untuk mengambil data tiap menit sekali sebesar Rp 350 (satu kali SMS/menit), maka dalam satu tahun pemerintah harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 184 juta untuk mengambil data dari satu stasiun pasang surut real time. Selain tidak ekonomis, jaringan GSM berpotensi rusak apabila terjadi tsunami dan gempa lokal. Selain itu, padatnya penggunaan ponsel saat hari-hari tertentu akan mengakibatkan sibuknya jaringan GSM, sehingga dikhawatirkan pemantauan tidak dapat berjalan dengan baik. Untuk mengatasi hal itu, sebaiknya jaringan pasang surut real time menggunakan satelit komunikasi, sehingga tidak bergantung kepada infrastruktur lokal.

30 Stasiun Real Time
Tahun 2006 ini, pemerintah menargetkan akan terpasang 30 stasiun real time, di luar stasiun analog dan digital yang saat ini sudah dimiliki. “Stasiun analog dan digital yang sudah kita miliki akan tetap dipertahankan,” kata Parluhutan Manurung. Pembangunan 30 stasiun real time ini merupakan komitmen dari Amerika Serikat, Jerman, dan Pemerintah Indonesia yang disepakatai pada bulan Juli 2006.


Gambar 2: Distribusi 30 stasiun Pasang Surut berdasarkan komitmen yang disepakati dengan dana USA, Jerman dan APBN Ristek
(Status Juli 2006)

Amerika Serikat melalui University of Hawaii Sea Level Centre (UHSLC)/NOAA berkomitmen membangun 10 stasiun real time. Hingga saat ini sudah terpasang 4 stasiun yaitu di Sabang, Sibolga, Padang, dan Benoa (Bali). Pasca tsunami Pangandaran dan Cilacap pada 17 Juli 2006, pemasangan 6 stasiun lainnya akan dipercepat sebelum akhir 2006. Sama halnya dengan Amerika Serikat, Jerman pun berkomitmen memasang 10 stasiun pasang surut real time. Pemasangan akan dilakukan pada Agustus 2006 di dua stasiun, yakni di Sadeng dan Teluk dalam.

Sementara itu, Pemerintah Indonesia sendiri berkomitmen memasang 10 stasiun pasang surut real time. Pemasangan dua stasiun sudah terealisasi pada Maret 2006. Sedangkan 8 lainnya akan dipasang pada tahun ini. Diharapkan, dengan terpasangnya 30 stasiun pasang surut real time pada tahun ini, TEWS dapat berfungsi dengan baik, sehingga dapat menekan angka korban jiwa.

Ketidaktahuan masyarakat seperti yang dikatakan di awal, menurut Parluhutan, sebenarnya dapat diatasi dengan sosialisasi kepada masyarakat setempat. Saat ini beberapa instansi berencana membuat peta rawan gempa dan tsunami. Hal ini memang perlu dilakukan secepatnya. Namun, menurut Parluhutan, peta tidak dapat berbicara tanpa ada sosialisasi ke masyarakat. Lagi pula, tidak semua orang mau membawa peta rawan gempa kemana pun mereka pergi.

Solusinya, peta rawan gempa dan tsunami harus diaplikasikan di lapangan. Bekerja sama dengan instansi bersangkutan, pemerintah daerah dapat membuat papan-papan petunjuk area rawan gempa dan tsunami, sekaligus papan petunjuk rute evakuasi. Luhut menambahkan, pemerintah daerah juga perlu membuat bukit-bukit buatan sebagai tempat evakuasi. Dengan sosialisasi tersebut diharapkan, saat bencana itu kembali terjadi, masyarakat dapat menyelamatkan diri dengan benar.

Bencana tsunami memang menggores hati sangat dalam. Trauma masyarakat tidak akan hilang dalam hitungan tahun, namun trauma saja tidak cukup untuk mengatasi bencana tsunami. Cara tepat menyembuhkan trauma adalah mengantisipasi bencana tersebut dengan tepat. Orang sukses adalah orang yang belajar dari kesalahan. Negara maju adalah negara yang belajar dari musibah yang dialaminya.