Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Aparatur Pemerintah Kota Dumai Ikuti Diklat SIG Tingkat Dasar BIG

Cibinong, Berita Geospasial BIG-Diklat SIG Tingkat Dasar sangat diminati oleh pengguna untuk mengenal informasi geospasial.  Diklat ini dapat berfungsi sebagai sumber pengetahuan dasar di dalam penyelenggaraan informasi geospasial.  Salah satu pengguna yang berasal pemerintah daerah yang mengikuti diklat tersebut adalah Pemerintah Kota Dumai dengan peserta 40 orang.  Diklat Sistem Informasi Geografis Tingkat Dasar diselenggarakan di Balai Diklat Geospasial BIG pada periode 4-15 Mei 2015. 

Kota Dumai adalah sebuah kota di Provinsi Riau, Indonesia, sekitar 188 km dari Kota Pekanbaru.Tercatat dalam sejarah, Dumai adalah sebuah dusun kecil di pesisir timur Provinsi Riau yang kini mulai menggeliat menjadi mutiara di pantai timur Sumatera.Kota Dumai merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Bengkalis. Dalam melaksanakan pemerintahannya, Kota Dumai dibagi menjadi 7 kecamatan, 33 kelurahan, serta 527 rukun tetangga (RT).  Dengan sumber daya yang dipunyai oleh Pemkot Dumai, maka pembangunan yang lebih bijak apabila dikelola berdasarkan informasi geospasial sehingga hasilnya akan lebih baik dan dapat berkelanjutan.  Untuk itu Pemkot Dumai mengikuti DiklatSistem Informasi Geografis (SIG) Tingkat Dasar.

Diklat SIG Tingkat Dasar yang berlangsung selama 10 hari kerja tersebut dibuka oleh Wiwin Ambarwulan, Kepala Pusat Penelitian, Promosi, dan Kerja Sama (PPPKS) BIG. Hadir pula pada hari itu Kepala Balai Diklat Geospasial BIG, Yovita Ani Istiati; Kepala Bagian Pertanahan Pemkot Dumai, Syahrinaldi; serta Kepala Sub Bagian Pengukuran Pemetaan, Fajar Uzmi Lubis. Yovita pada pembukaan diklat menyampaikan materi dan peraturan yang berlaku selama proses diklat berlangsung kepada para peserta. Total waktu diklat 84 jam pelajaran (JPL) yang akan diikuti peserta, dimana 1 JPL berlangsung selama 45 menit. "Pada akhir kegiatan diklat diharapkan peserta mampu membangun basisdata geospasial, mengolah dan memanipulasi basisdata geospasial dan menyajikan IG", terang Yovita. Diklat SIG Tingkat Dasar yang diselenggarakan di Balai Diklat Geospasial ini dibagi menjadi 2 kelas, yaitu kelas A dan kelas B, tambah Yovita. 

Sementara itu, Syahrinaldi, Kepala Bagian Pertanahan Pemkot Dumai mengungkapkan bahwa diklat ini sangat penting untuk peningkatan SDM para aparatur Pemkot Dumai. Ia berharap agar peserta dapat mengikuti pelatihan dengan sebaik-baiknya dan bertanya segala sesuatu yang tidak diketahui tentang SIG kepada Widyaiswara. "Jagalah kesehatan dan ikuti peraturan sebaik mungkin", tandas Syahrinaldi. Pada kesempatan itu Syahrinaldi memberikan pantun kepada hadirin, "Bersama Cik Mat Mendayung Sampan, Hendak Berlayar ke Tanjung Datuk. Selamat Kepada Anda Sekalian untuk Mengikuti Pelatihan, Meskipun Terkadang Anda Mengantuk". Kontan peserta yang hadiri tertawa mendengarkan pantun tersebut, dan suasana yang tegang dapat mencair.

Pembukaan diklat dilanjutkan dengan sambutan dari Wiwin Ambarwulan, Kepala Pusat PPKS BIG. Wiwin mengaku terkejut karena peserta yang hadir merupakan aparatur sampai tingkat kelurahan, itu berarti menunjukkan ahli IG di daerah tersebut tidak hanya di level provinsi atau kecamatan, tetapi juga sampai level kelurahan. Terutama terkait program Nawacita dari pemerintahan saat ini yang menginginkan pembangunan dilakukan dari desa dan dari pinggir. Dengan sumberdaya manusia di BIG yang terbatas, tentu akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan peta untuk desa seluruh Indonesia. "Setidaknya dengan banyak bapak-ibu yang mengikuti pelatihan, kami bisa terbantu. Karena bila pelatihan dengan tekun, setidaknya nantinya batas desa akan bisa diukur sendiri", demikian diungkapkan Wiwin.

Wiwin juga menyampaikan bahwa ke depannya akan dibuat suatu SOP (Standard Operating Procedure), sehingga daerah bisa melaksanakan pelatihan sendiri, tidak perlu ke BIG. Agar bila nantinya proses pemetaan dikontrakkan ke pihak ketiga bisa diawasi sendiri, dan outputnya juga tepat, namun untuk pelaksanaan pekerjaan ke pihak ketiga harus menggunakan standard dari BIG. "Disini - dalam diklat ini - teori hanya sedikit, lebih banyak praktik karena peserta langsung berlatih di komputer. Nanti akan ada instruktur dan asisten yang siap membantu dan sistemnya interaktif", jelasnya. Kemudian Wiwin juga tak lupa membalas pantun dari Syahrinaldi yang diberikan sebelumnya, seperti berikut ini "Dari Dumai Membawa Coklat, Membawanya Lebih dari Empat. Dari Dumai Mau Diklat, Insyallah Pasti Akan Bermanfaat". Setelah itu dilakukan proses penyematan name tag kepada perwakilan peserta dan foto bersama. Diharapkan diklat ini dapat memberikan ilmu pengetahuan yang nantinya dapat diaplikasikan bila sudah kembali ke Dumai nanti. (LR/TR)